PARADIGMA FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Deskripsi
Seperti halnya yang sering saya contohkan dalam perkuliahan, setiap makhluk atau ciptaan yang sempurna pada dasarnya memiliki kemampuan untuk bergerak secara bebas. Sebagai contoh, sepeda motor atau mobil yang diproduksi oleh pabrik dan dinyatakan sempurna serta siap digunakan dapat bergerak maju dan mundur, berbelok ke kiri dan ke kanan, serta berhenti sesuai dengan fungsinya. Demikian pula manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna. Dari segi fitrahnya, kehidupan manusia, demikian pula kehidupan ruhaniahnya, diciptakan dengan poros yang dapat bergerak naik hingga mencapai puncak, yakni kedekatan dengan Tuhannya, dan poros yang dapat bergerak turun hingga berada pada tingkat eksistensi yang lebih rendah daripada benda-benda mati. Benda mati, seperti batu, digambarkan dalam Al-Qur'an dapat menggelinding dari tempat yang tinggi karena takut kepada Allah Swt., Sang Pencipta. Sementara itu, manusia terkadang justru tampak tenang dan tidak memiliki rasa takut kepada Sang Maha Kuasa. Kondisi tersebut menggambarkan tingkat spiritualitas yang bahkan dapat lebih rendah daripada benda yang dianggap mati. Sebagai makhluk yang sempurna, manusia secara eksistensial dianugerahi jiwa yang memungkinkannya memiliki kebebasan kehendak (*free will*) dan kebebasan bertindak (*free act*). Hal tersebut berkaitan dengan hati (*al-qalb*) yang memiliki karakter dinamis dan dapat berubah-ubah (*muqallib*), yang mencerminkan salah satu aspek kesempurnaan ciptaan Tuhan. Dalam konteks ini, manusia memiliki kebebasan dalam kehendak dan tindakan. Manusia juga memiliki hati yang menjadi inti dari kepribadian (*an-nafs*) dengan dua potensi dan kecenderungan yang berlawanan, yaitu kecenderungan kepada kejahatan (*fujuur*) dan kecenderungan kepada kebaikan (*taqwa*). Al-Qur'an mengingatkan bahwa keberuntungan dan kebahagiaan manusia berkaitan dengan keberhasilannya dalam menyucikan jiwa, sedangkan kerugian dan kebinasaan berkaitan dengan tindakan mengotorinya. Hal tersebut sebagaimana ditegaskan dalam QS Asy-Syams [91]: 7–10. Dengan demikian, kebebasan yang dimiliki manusia tidak hanya menjadi bentuk kesempurnaan eksistensial, tetapi juga menjadi amanah yang harus diarahkan kepada kebaikan, ketakwaan, dan kedekatan kepada Allah Swt.